<![CDATA[Sekolah Alam Cikeas - Kelas 10]]>Tue, 05 May 2020 00:08:46 +0700Weebly<![CDATA[​Meet & Learn with the Expert]]>Tue, 23 Apr 2019 17:00:00 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-10/meet-learn-with-the-expertPicture
Kebayang kan bagaimana rasanya jadi guru untuk siswa yang isinya para Millenials atau bahkan lebih pas dengan sebutan Digital Native yang super cepat belajar karena mudahnya mendapat informasi dari belahan dunia.

Ditambah lagi  dengan munculnya ragam minat bakat siswa kekinian yang rasa-rasanya tidak mungkin kebutuhan belajar mereka dapat dipenuhi di kelas. Lihat saja di kelas kecil di SMA Sekolah Alam Cikeas yang ternyata tiap siswanya memiliki minat dan bakat yang berbeda. Ada yang sudah mantap ingin mendalami bidang Animasi, Komposer Lagu, Event Organizer, Kesehatan, Pelayanan Masyarakat, Fotografi, Videografi da nada juga yang sudah mantap ingin mendalami dan menjalankan Bisnis Pribadi.

Hadirnya Guru Sejarah, PKn, Agama, IPA, Sosial, Bahasa, Matematika saja tidak akan cukup untuk mereka. Lantas bagaimana caranya sekolah bisa tetap memfasilitasi ragam potensi peserta didiknya?, jawabannya cukup satu kata yaitu, KOLABORASI.

Seperti yang sedang kita kembangkan saat ini di SMA Sekolah Alam Cikeas, disaat kakak kelas XII melaksanakan Ujian Nasional, maka adik-adik kelas X yang biasanya libur atau belajar di rumah, beda halnya dengan siswa-siswi kelas X SMA Sekolah Alam Cikeas. Minggu ini mereka berkesempatan untuk bertemu dan belajar langsung dengan para Maestro, para Expert di bidangnya masing-masing dalam program khas SMA Sekolah Alam Cikeas yaitu “Meet and Learn with the Expert.

Pihak sekolah bersama orangtua melakukan proses kolaborasi untuk mencari dan menemui para Expert yang sesuai degan potensi anak untuk kemudian mengajukan proses kerjasama, lebih tepatnya belajar bersama.
Meet and Learn with the Expert adalah sebuah program wajib bagi para siswa SMA Sekolah Alam Cikeas yang dilaksanakan dalam tiga tahapan selama tiga tahun dan dengan batas durasi minimal yang telah ditentukan. Melalui ini diharapkan para siswa mendapat pengALAMan nyata belajar suatu bidang yang diminati dan merupakan keunggulan mereka sehingga dapat membuka cakrawala tentang bidang dan indutri yang terkait dengan bidang atau potensi yang telah mereka temukan dan tentukan bersama Mentor disekolah dan orangtua di rumah.

Enjoy the journey students!
#sma #smasac #sacikeas #smasacikeas #meetandlearnwiththeexpert #sekolahalamcikeas
]]>
<![CDATA[Tantangan Mengajar]]>Tue, 15 Jan 2019 03:33:00 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-10/tantangan-mengajar
Tantangan mengajar kelas dengan ragam kecerdasan dan kebutuhan gaya belajar. 

Sudah menjadi kewajiban seorang guru untuk terus berpikir, terus menggali ide, terus mengasah kreatifitas, 
terus melakukan kajian agar dapat memfasilitasi kebutuhan ragam siswa dengan ragam bakat, minat dan kemauan dalam satu waktu yang bersamaan. 

Lain dulu lain sekarang, kalau dulu, dalam pelajaran Olahraga misalnya, ketika guru berkata "Hari ini kita Olahraganya kasti ya...", maka dengan cukup instruksi itu semua siswa akan bergegas mengenakan dan menyiapkan perlengkapannya menuju satu arena.

Namun sekarang, tidak semua murid akan mudah bergegas, tidak semua murid akan directly say yes, tidak jarang ada murid yang interupsi, "pak Olahraganya ini aja dong, Pak kita games dulu dong, Pak, ini itu lah poko'e khas gaya muridjaman NOW...", which is can be good, as long as mereka bisa menyampaikannya dengan cara yang santun. Itu artinya mereka punya ruang untuk berargumen dan berpendapat bahkan dengan gurunya.

Belum lagi kondisi semua murid dalam satu kelas yang belum tentu sudah satu frekwensi, kadang ada saja yang ndak mau sama si itu lah, maunya segrup sama yg itu-itu saja lah, jadi, again ini adalah tantangan buat guru jaman NOW. 

Foto ini adalah gambaran kegiatan pemanasan sebelum kegiatan Olahraga Pingpong, yang dirancang untuk membangun kedekatan dan menyatukan frekwensi sebelum memulai aktifitas intinya. (BrainGYm ala SMA)

Kami membuka pendaftaran baru tahun ajaran 2019/2020 untuk KB-TK-SD-SMP-SMA.
Untuk info ketersediaan kuota silahkan hubungi kami di
​021-8231985
SAlam Cikeas

]]>
<![CDATA[Student's Self Survival]]>Mon, 27 Aug 2018 02:27:30 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-10/students-self-survival
Student’s Self Survival
Secara Bahasa Student’s Self Survival dapat diartikan sebagai program “Ketahanan Diri Siswa”. Student’s Self Survival atau disingkat dengan 3S ini merupakan program yang berfokus pada pengaplikasian tanggung jawab pribadi (personal responsibility) siswa yang dilakukan setiap tahun pertama semester gasal SMA Sekolah Alam Cikeas.
Konteks  Ketahanan Diri
Ketahanan diri yang saya maksud disini bukan sekedar kekuatan fisik dalam bertahan di segala cuaca dan tantangan fisik yang dihadapi, akan tetapi ketahanan diri dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam dirinya, lingkungan keluarganya, lingkungan pertemanannya, lingkungan masyarakat sekitarnya dan masalah-masalah yang pasti akan ditemui oleh setiap manusia. Dalam istilah psikologi ketahanan diri ini lebih dikenal dengan istilah Adversity Quotient yang ditemukan dan dikembangkan oleh Dr. Paul G. Stoltz
Menurut Stolzt (2000), defenisi AQ dapat dilihat dalam tiga bentuk yaitu :
  1. Adversity Quotient (AQ) adalah suatu konsep kerangka kerja guna memahami dan meningkatkan semua segi dari kesuksesan.
  2. Adversity Quotient (AQ) adalah suatu pengukuran tentang bagaimana seseorang berespon terhadap kesulitan
  3. Adversity Quotient (AQ) merupakan alat yang didasarkan pada pengetahuan sains untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam berespon terhadap kesulitan.
Seperti apa kegiatan 3S yang dilakukan oleh siswa SMA Sekolah Alam Cikeas?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, program 3S ini dilaksanakan pada semester satu dan dilakukan dua sesi. Sesi pertama merupakan tantangan awal untuk para siswa baru untuk menggali ide dan mencari solusi dari tantangan yang diberikan oleh mentornya.

Kali ini siswa berkesempatan sekaligus ditantang untuk melakukan perjalanan ke sebuah desa di daerah Cianjur, Jawa Barat, tepatnya adalah di kampung Singabarong dengan tema “Merdeka Bersama Warga”yang dilakukan pada tanggal 17-19 Agustus 2018. Pada 3S sesi 1 ini siswa sudah mulai ditantang untuk menyiapkan perlengakapan kegiatan, menuju titik temu dengan waktu yang ditentukan, kordinasi langsung dengan warga, dan berkolaborasi dengan tim relawan yang tergabung dalam program tersebut.

Alhamdulillah tantangan awal ini dapat diselesaikan dengan penuh tanggungjawab dan antusiasme yang baik oleh setiap siswa, hal itu terlihat dari respon dan taggapan positif dari warga dan rekan relawan yang bekerjasama pada program tersebut. Semoga pengalamAN ini dapat menjadi pembelajaran yang mendalam bagi setiap anak, sehingga kelak selaludan lebih siap dalam beradaptasi dengan lingkungan dan masalah-masalah yang akan mereka temu di kemudian hari.
Sampai jumpa di 3S 2 ya semua…
]]>
<![CDATA[Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah]]>Mon, 27 Aug 2018 00:42:18 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-10/masa-pengenalan-lingkungan-sekolah
​Yang Berbeda di MPLS SMA Sekolah Alam Cikeas
Tahun ajaran baru 2018/2019 telah dimulai. Satu minggu yang lalu para siswa, guru bahkan orangtua semua disibukan dengan momen awal tahun ajaran baru yaitu kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ketentuan MPLS untuk tahun ajaran ini masih mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 18 Tahun 2016
Secara umum pelaksanaan MPLS tahun ini sudah semakin baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, hal ini terkait perhatian pemerintah terhadap peristiwa-peristiwa kurang baik yang terjadi pada kegiatan MPLS atau MOS pada tahun-tahun sebelumnya.
Yang terlihat di tahun ini, pelaksanaan MPLS secara keseluruhan dipantau oleh pihak guru, sehingga tidak terjadi tindakan-tindakan yang cenderung otoriterisme senioritas. Seragam atau atribut aneh juga sudah tidak lagi terlihat pada MPLS tahun ini. Apresiasi setingg-tingginya untuk pemerintah yang terus dan semakin peduli terhadap implementasi pendidikan yang tepat di sekolah-sekolah di Indonesia.
 
Lantas apa yang berbeda di kegiatan MPLS SMA Sekolah Alam Cikeas.
Dari rentetan kegiatan MPLS SMA 2018/2019 yang berlangsung dari tanggal 17-20 Juli 2018, ada beberapa kegiatan yang dirancang khas khusus untuk calon siswa-siswi SMA Sekolah Alam Cikeas,di antaranya :
  1. Siaturahim dan Berjejaring
Pada hari pertama pelaksanaan MPLS, semua warga sekolah termasuk siswa-siswa SMA Sekolah Alam Cikeas melakukan kegiatan Halal Bil Halal atau silaturahim dengan sesama warga sekolah. Pada momen ini, anak-ana diberikan tantangan sekaligus kesempatan berjejaring dengan para leader dan decision maker yang ada di sekolah (Direktur, Para Kepala Divisi dan Kepala Sekolah).
Setiap dari mereka mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri dan meminta akses komunikasi kepada minimal lima leaders di sekolah untu kemudian menawarkan kolaborasi pada proyek-proyek yang anak mereka lakukan selama berada di SMA Sekolah Alam Cikeas.
 
  1. Berkenalan dengan Tokoh Masyarakat Sekitar
Di hari kedua, setelah pagi dan siang hari mengikuti rentetan kegiatan di lingkungan internal sekolah bersama para mentor, sore harinya siswa kembali mendapat tantangan dan kesempatan untuk menjumpai para leader (tokoh masyarakat) di sekitar sekolah. Mereka mendapat tantangan untuk mencari, menghampiri, bersilaturahim dan berkenalan dengan ketua RT yang berada terdekat dengan wilayah sekolah. Hal ini dilakukan untuk persiapan kolaborasi dengan masyarakat yang akan mereka lakuakan di beberapa proyek mereka ke depan.
 
  1. Students-Parents Commitment
Di hari terahir pelaksanaan MPLS, kami mengundang semua orangtua untuk hadir dan duduk bersama semua siswa untuk kemudian mendapat kesempatan secara bergiliran untuk berbicara di depan terkait harapan sebagai orangtua kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan ungkapan terimakasih dan komitmen siswa untuk berjuang di sekolah dengan optimal untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan agenda tersebut kami berharap terbangun sebuah mindset pada setiap siswa bahwa : belajar tidak hanya pada saat bersama guru, tetapi mereka bisa belajar dan berkolaborasi dengan banyak orang untuk menunjang proses belajar dan pengembangan potensinya. 
]]>
<![CDATA[Masih Elokkah Tes Akademik Untuk Penerimaan Siswa Baru?]]>Mon, 19 Mar 2018 17:00:00 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-10/masih-elokkah-tes-akademik-untuk-penerimaan-siswa-baru
Masih Elok kah Tes Akademis untuk Penerimaan Siswa Baru

Sudah menjadi pemandangan umum sebuah tes serentak di beberapa sekolah dalam rangka penyaringan siswa baru. Siswa datang berduyun-duyun ditemani oleh orangtua mereka untuk mengikuti ujian tes tertulis di setiap tahunnya. Sekolah dengan prestasi akademis baik akan menjadi salah satu tujuan utama para orangtua untuk menyekolahkan anaknya disana.
Belum lagi sekolah-sekolah unggulan yang sudah menentukan standar nilai minimal tertinggi untuk bisa bersekolah disana. Sebuah kegagalan besar bagi siswa yang bercita-cita di sekolah unggulan tersebut ketika mendapati hasil nilai ujian nasionalnya di bawah standar minimal yang sudah ditentukan oleh sekolah tersebut. Sehingga siswa tersebut harus rela menerima konsekuensi untuk melanjutkan sekolahnya di prioritas kedua, ketiga, dan seterusnya.

Pertanyaannya, apakah lulusan siswa-siswa dengan nasib serupa sudah pasti memiliki perkembangan karir dan hidup di bawah rata-rata siswa yang berhasil masuk dan lulus dengan nilai tinggi di sekolah unggulan itu? Jawabannya, silakan kawan-kawan, Ayah-Bunda, Om-Tante melihat di kanan-kiri, depan-belakang, dan di sekitar kawan-kawan. Apakah hukum itu berhasil, ataukah justru sebaliknya?.

Menurut Direktur Kemahasiswaan UGM, Drs. Hariyanto, M.Si (2008/2009), kemampuan intelektual (hard skill) tidak menjamin seseorang akan sukses dalam hidupnya. Sebab tingkat intelektual hanya mendukung 20% dari pencapaian prestasi dan keberhasilan seseorang. Sementara 80% sisanya berasal dari kemampuan kepribadian (soft skill).

Daniel Goleman, pakar psikologi dari Amerika Serikat, pada tahun 1998 menyatakan bahwa Emotional Quotient (EQ) sangat berpengaruh pada kesuksesan seseorang. Orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena rendah kecerdasan intelektualnya, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional, meskipun kecerdasan intelegensinya berada pada tingkatan rata-rata. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya memiliki kecerdasan emosional yang baik. Diketahui EQ berkontribusi 66% dalam kehidupan seseorang, sedangkan IQ berkontribusi 33% saja dalam kesuksesan. Bahkan kontribusi EQ bagi seorang pemimpin perusahaan mempengaruhi 85% dalam karir mereka.

Terkait fenomena tes akademik serentak sebagai proses penjaringan siswa, saya tidak dalam porsi untuk menyatakan proses seperti itu sangat baik, baik, atau kurang baik. Saya hanya akan mencoba mengantarkan Anda semua ke suatu pengibaratan.

Proses seleksi siswa baru itu ibarat jika kita ingin menanam tanaman. Untuk menanam yang kita butuhkan adalah: benih (calon siswa); tanah/media (sekolah, fasilitas dan lingkungan sekitar); dan orang yang merawat (guru dan orangtua).

Benih-benih yang baik dan sejenis akan tumbuh subur jika ditanam di lahan atau tanah yang subur dan sesuai jenis tanaman, terlebih jika dirawat dengan baik oleh pemiliknya.
 
Pertanyaannya:
  1. Apakah kita seterusnya hanya akan menerima siswa dengan tipe kecerdasan yang sama?
  2. Apakah kita seterusnya hanya akan menerima siswa dengan level kecerdasan yang sama?
  3. Apakah kita hanya akan mengembangkan siswa di lingkungan sekolah saja yang sudah pasti terbatas ruang geraknya?
Atau kita ingin
  1. Menanam dan menumbuhkan keberanekaragaman siswa
  2. Menerima tidak hanya siswa yang tinggi intelektualitasnya saja
  3. Membuka seluas-luasnya lahan belajar (tidak hanya di sekolah), yaitu dengan menjalin  menjalin kemitraan dengan elemen masyarakat demi memfasilitasi siswa dengan segala varian dan keunikannya.

Jika demikian maka perlu kita ubah cara dan proses penerimaan siswa baru (yang tidakcumates akademik saja). Pusing? Jelas lebih memusingkan. Lelah? Jelas lebih melelahkan dibanding sekedar tes akademik serentak. Lelah di awal dan juga lebih lelah dalam proses menumbuhkan, tetapi percayalah, itu akan menjadi salah satu cara terbaik untuk mencetak generasi emas ke depan.

Izinkan saya berbagi proses penerimaan siswa baru yang dilakukan di SMA Sekolah Alam Cikeas. Tanpa menyatakan bahwa ini adalah cara terbaik dalam proses PSB, saya hanya ingin berbagi cerita, barangkali bisa bermanfaat bagi kawan-kawan semua.

Seperti apa proses PSB yang kami lakukan di SMA Sekolah Alam Cikeas? Berikuta gambaran singkatnya:
  1. Pre-Interview. Wawancara dengan orangtua terkait penyamaan visi mendidik antara orangtua dan sekolah.
  2. Sit in. Calon siswa berkesempatan mengikuti kegiatan seharian bersama teman-temannya di kelas 9 SMP SAC untuk kebutuhan observasi sosialisasi dan kemandirian siswa.
  3. Academic Mapping. Siswa mengerjakan soal-soal secara online yang terdiri dari materi-materi pokok SMP untuk memetakan keunggulan akademis siswa.
  4. Interest Survey. Siswa akan mengisi beberapa instrumen terkait minat bakat mereka yang nanti akan menjadi salah satu acuan untuk dikembangkan di SMA.
  5. Outbound. Siswa berkesempatan untuk menyelesaikan beberapa instalasi outbound sebagai bahan observasi kondisi kesehatan dan ketangkasannya.
  6. Student’s Interview. Fasilitator akan melakukan wawancara dengan siswa terkait kondisi siswa, keluarganya, lingkunganya, fasilitas yang dimilikinya, cita-citanya, dan lain sebagainya. Informasi yang didapat akan menjadi salah satu acuan dalam tindak lanjut pengajaran dan pendampingan di sekolah.
  7. Parents’ Interview. Kepala sekolah atau tim akan melakukan wawancara dengan kedua orangtua terkait hasil observasi yang telah dilakukan pihak sekolah dan membahas tindak lanjut pola asuh dan pola didik yang sesuai serta komitmen bersama selama tiga tahun ke depan.  
  8. Jika orangtua sepakat, maka calon siswa akan secara otomatis diterima sebagai siswa SMA Sekolah Alam Cikeas, yang kemudian akan ditindaklanjui untuk proses berikutnya.
Waah, panjang juga ya prosesnya. Pasti Anda sudah kebayang berapa lama dan rumit proses sepanjang itu jika dilakukan untuk setiap siswa. Awalnya juga saya berasumsi demikian, tetapi setelah dipraktekkan menggunakan instrumen yang pas, sebenarnya proses itu ringan dan meyenangkan dan bisa selesai dalam dua hari saja. 

Sudah menjadi komitmen sekolah untuk benar-benar memahami kondisi siswa terkini dan visi orangtua sebelum bersepakat untuk mendidik dan mengasuh bersama.

Kebayang kan ketika kita mau antarkan siswa menuju suatu tempat dan kita sudah mengetahui kapasitas mereka masing-masing. Hal tersebut akan membantu kita untuk memilih jalan mana dan cara apa yang paling pas agar tepat dan cepat sampai tujuan.
Selamat mencoba, teruslah belajar, karena ketika kita  telah memutuskan untuk menjadi seorang  pengajar maka saat itulah kita harus dan terus lebih banyak belajar.
 
 
Cikeas, 20  Maret 2018
Salam,
 
Fadhil Mas Ghufron
SMA Sekolah Alam Cikeas
]]>
<![CDATA[Armada Terbaik Untuk Menggapai Mimpi]]>Mon, 30 Oct 2017 17:00:00 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-10/armada-terbaik-untuk-menggapai-mimpi
“ARMADA terbaik untuk menggapai MIMPI adalah POTENSI DIRI”

Sayangnya  masih banyak kita temukan dan alami  hingga saat ini adalah sekolah atau bahkan universitas yang notabennya sebagai jembatan bagi anak-anak dalam menggapai mimpinya masih  sedikit yang  menyajikan kegiatan belajar yang  fokus  memfasilitasi potensi tiap-tiap peserta didiknya. 
Bahan dan materi yg disajikan kebanyakan ilmu pengetahuan yg beragam dan melebar dengan puluhan atau belasan pelajaran yg saat ini sebenarnya  sudah bisa langsung anak dapatkan melalui gawai dalam genggaman, tanpa harus menunggu guru menjeaskan. Terlebih disayangkan lagi kesemuanya itu belum tentu sesuai dengan apa yang nantinya anak butuhkan ketika menghadapi dunia sesungguhnya.
Gambar ilustrasi di atas  adalah kutipan dari hasil  riset yg dilakukan oleh guru muda saya @arryrahmawan yg menunjukan bahwa masih banyak fenomena berjalan mengambang, dalam artian sebagian besar mahasiswa bahkan profesional kita yg belajar atau bekerja tidak sesuai potensinya, atau tidak pada pijakan yang tepat. Jadi sangatlah wajar jika mereka, atau mungkin kita, anak-anak didik kita belum bisa menunjukan hasil atau pencapaian yg optimal.

Lantas bagaimana caranya agar anak-anak kita bisa menikmati proses belajar dan memiliki gairah belajar yg tinggi karena sesuai dengan minat, bakat dan potensinya?
Albert Einstein pernah mengatakan, "Pada dasarnya setiap orang yg dilahirkan di dunia itu jenius, tapi sayangnya kecerdasan mereka lebih banyak diukur dgn hal-hal yang mereka tidak miliki, bukan yg mereka miliki". 

Sekitar satu bulan yg lalu saya dan tim Litbang Sekolah Alam Cikeas berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan @abahrama, founder Talent Mapping di kediamannya di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.

Dari sekian banyak materi diskusi dan sharing beliau yg begitu menginspirasi saya, ada satu pertanyaan yg saya ajukan kepada beliau, yaitu: Bagaimana cara terbaik untuk menemukan bakat anak?

Beliau dgn nada santai dan sedikit tersenyum menjawab pertanyaan saya, "Cara terbaik dan terefektifnya ya yg seperti mas Fadhil dan kawan-kawan lakukan di sekolah",kebetulan beliau sudah tahu kalau saya mengajar di sekolah alam, yaps Sekolah Alam Cikeas tepatnya.

Awalnya saya masih belum DONG dengan  jawaban beliau yg singkat itu, dan tidak  lama beliau kembali melanjutkan jawabannya, "Semakin banyak aktifitas yg dilakukan di sekolah, maka guru akan semakin mudah untuk menemukan bakat siswanya".

Oh I see, yaps I got it!

Sejatinya sekolah harus mampu memfasilitasi kebutuhan siswa yg beragam, aktifitas yg bervariasi dan dapat mengakomodir serta mengaplikasikan  multiple assessment agar setiap siswa bisa berkembang sesuai dengan POTENSI UNIKnya.

Dari situlah kami dengan didukung oleh teman-teman yg super hebat menemukan dan akan terus mengembangkan sebuah kurikulum yg salah satu fokus utamanya adalah mengembangkan potensi siswa, atau bahasa kerennya adalah, STUDENT'S POTENTIAL DEVELOPMENT CURRICULUM yg diterapkan di SMA Sekolah Alam Cikeas.

Segera daftar untuk emendapatkan kesempatan belajar dengan cara dan konten belajar yang memang dibutuhkan oleh anak untuk melewati dan memenangi masa depan dengan memaksimalkan potensi dan dukungan; Win the future by optimizing own potential.

#sma #sac #smasac #sacikeas #sekolahalamcikeas

Fadhil Mas Ghufron
]]>