<![CDATA[Sekolah Alam Cikeas - Kelas 8]]>Fri, 23 Apr 2021 18:44:11 +0700Weebly<![CDATA[PENJELAJAHAN DI PULAU SUMATERA]]>Fri, 26 Mar 2021 01:38:31 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-8/penjelajahan-di-pulau-sumatera
Project Based Learning atau biasa di kenal dengan PBL   merupakan salah satu program unggulan dari SMP Sekolah Alam Cikeas. Siswa-siswa akan mencari suatu permasalahan dalam suatu wilayah sehingga ditemukan suatu solusi yang diajukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. DI PBL kelas 8 kali ini siswa-siswa akan mengobservasi dengan lingkup Nasional, yaitu mereka pergi  Taman Nasional di Pulau Sumatera.

Pada angkatan 1-3 mereka berkunjung ke Taman Nasional Bukit 30 Riau atau kita sebut TNBT, sedangkan angkatan 4-6 mereka berpindah ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan  atau biasa disebut TNBBS. Kenapa di Sumatera? Karena kita ketahui kondisi ekosistem yang berbeda dengan Pulau Jawa tempat kita tinggal sehingga mereka bisa membandingkan dan mengobservasi tidak hanya tentang keanekaragaman hayati yang ada di wilayah Sumatera, tetapi mereka juga mengamati budaya, kebiasaan, dan sosialisasi penduduk sekitar. Melalui kegiatan tersebut siswa bisa melihat dan merasakan kondisi yang sangat berbeda dengan wilayah tempat tinggal mereka.   Pengalaman baru tersebut akan mengasah mental, karakter, logika berpikir dan emosional mereka, sehingga akan membentuk siswa-siswa yang matang, pantang menyerah, mandiri  dan mampu beradaptasi di lingkungan manapun.

Di kelas 8, PBL yang mereka lakukan  selama kurang lebih 7 hari di Taman Nasional  sekitar Sumatera. Banyak sekali pengalaman seru, sedih, dan bahagia serta pelajaran-pelajaran yang mereka ambil saat melakukan kegiatan ini.
Disana mereka dipandu oleh petugas hutan untuk mengobservasi hewan-hewan yang dilindungi, dikenalkan dengan tanaman langka yang tidak mereka jumpai, bertemu pacet disetiap jalan, berkenalan dengan auman harimau, suara burung rangkok, dan suara monyet yang bersautan, melihat jejak-jejak babi hutan, jejak kucing hutan hingga melihat kondisi perairan sungai. Pengalaman ini tidak bisa didapat hanya dengan membaca buku ataupun menonton channel  lingkungan yang biasa kita lihat di TV, karena sensasi dan pengalamn yang didapat sangat berbeda dan menjadikan sebuah pengalaman yang tak pernah terlupakan.

Selain itu mereka juga belajar dan mendapat pengalaman berkenalan dengan suku-suku asli di sekitar Taman Nasional, bercengkerama dengan penduduk asli, dan bahkan merasakan pengalaman melakukan kegiatan budaya di sana.  Angkatan 3 saat pergi ke Taman Nasional Bukit 30, mereka  berkenalan dengan suku asli yaitu suku talang mamak, mewawancarai mereka dan mereka juga mencoba budaya disana yaitu budaya gambusan dan lempar tombak.

Pengalaman-pengalaman ini yang akan mereka bawa hingga mereka dewasa, karakter-karakter saat PBL terbangun dan membentuk karakter mereka menjadi siswa dan remaja yang kuat, tangguh, pantang menyerah, berjiwa social, mandiri, logika berpikir yang terasah saat observasi disana dan tentunya akan berguna bagi mereka di masa yang akan datang.(QQ)
]]>
<![CDATA[Puspitek Innovation Festival 2018]]>Fri, 21 Dec 2018 04:13:56 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-8/puspitek-innovation-festival-2018
Kamis, 27 September 2018 hari yang melelahkan bagi empat siswa SMP Sekolah Alam Cikeas yang di ikut sertakan dalam perlombaan Puspiptek Innovation Festival 2018 yang di Pusiklat Ristek Dikti Tangerang Banten,
 mereka adalah Ananda Hanna Nashita Komara, Muhammad Danu Nofiandi, Sitti Inastasia dan Falesya Luneta Althafida. Pada hari kamis tersebut ke empat siswa ini seharian mempersiapkan segala display, slide presentasi juga mencari eceng gondok untuk disimpan sebagai display di stand bersama alat-alat lab lainnya sebelum mengikuti lomba di Puspitek pada hari Jum’at 28 September 2018.

Pada penelitian kali ini, mereka mengambil tema tentang lingkungan, dengan judul “Penanganan Eutrofikasi Menggunakan Alumunium Sulfat” dengan tujuan ingin dapat mengetahui dampak, proses, dan penanganan Eutrofikasi dengan menggunakan aluminium khususnya pada air tawar. Tahapan kerja mereka yang pertama adalah menyiapkan tray dan mengisinya dengan air Eutrofikasi dan eceng gondok, kedua mereka mengukur alumunium sulfat sesuai dosis, ketiga mereka memasukkan aluminium ke dalam tray-tray sesuai dosis dan mengaduknya, yang terakhir adalah mereka menunggu dan mencatat setiap hari, juga mengamati perkembangannya.

Jumat, 28 September 2018, mereka datang ke sekolah dan langsung berkumpul mempersiapkan presentasi, sesampai di Festifal Puspitek, mereka mencari stand, menata display dan menempel poster-poster yang sudah dibuat, saat presentasi, ternyata hanya mereka yang menggunakan slide dengan penelitian serius, anak-anak lain lebih mempresentasikan tentang percobaan kecil seperti ac mini, sterofoam cutter, dan beberapa percobaan lalin yang kelihatannya bukan penelitian yang serius.

Peserta dari SMP SAC dapat mempresentasikan dengan baik hasil penelitian mereka dan mendapatkan apresiasi dari dewan juri dengan mengatakan “penelitian dan presentasi kalian sudah seperti Mahasiswa” disambut dengan tepuk tangan seluruh penonton yang hadir di tempat tersebut.

Pengumuman pemenang diumumkan pada puncak acara Festifal Puspiptek pada hari minggu, 30 September 2018, walaupun hasil akhirnya perwakilan dari SMP SAC belum mendapatkan juara, namun pengalaman mereka sudah memberikan pengalaman yang tidak ternilai bagi seluruh peserta. Insyllah tahun depan perwakilan kita akan mengikuti kembali acara ini dengan persiapan yang lebih matang lagi. (FLA)
]]>
<![CDATA[Menjelajah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan]]>Fri, 21 Dec 2018 03:48:53 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-8/menjelajah-taman-nasional-bukit-barisan-selatan
Kubu Perahu – Project Based Learning (PBL) merupakan salah satu kegiatan khas SMP Sekolah Alam Cikeas (SMP SAC) yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid. 
Kemarin, anak-anak kelas 8 Explorer SMP SAC baru saja menyelesaikan PBL mereka di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang dilaksanakan selama 6 hari dari tanggal 17- 22 September 2018. Kegiatan ini di ikuti oleh 23 siswa yang didampingi oleh 4 orang fasilitator.

Setiap anak, disini memiliki kelompoknya masing-masing, dimana setiap kelompok telah diberikan suatu tema. Di lapangan, mereka akan melakukan penelitian sesuai tema mereka, dengan menganalisa, mendokumentasikan, serta melakukan proses wawancara kepada warga dan petugas sekitar. Penelitian mereka didasarkan dengan metode ilmiah. Sebelum pergi, mereka membuat proposal dari penelitian mereka.

Di TNBBS, mereka melakukan berbagai kegiatan seperti trekking di hutan, Herpeto Fauna, dan melakukan observasi dan wawancara ke penduduk sekitar, mengunjungi para petani damar, dan juga merasakan semaraknya acara Liwa Fest yang diadakan di Desa Liwa.

“Menurut saya, pengalaman kami selama di TNBBS sangatlah seru! Walaupun banyak rintangan, tetapi kita bisa menyelsaikannya, karena masalah akan selalu datang kapanpun dan dimanapun.” ujar Gandhi, salah satu murid kelas 8 Explorer, Kamis (17/10/2018).

Setelah selesai, mereka merangkai semua data yang mereka peroleh menjadi laporan dan mempresentasikannya di depan guru-guru dan orang-tua, untuk sekaligus diambil nilai. Nilai PBL ini merupakan nilai pengganti UTS bagi para murid-murid SMP Alam Cikeas. (SI)
]]>
<![CDATA[Menuju Nol kg Sampah]]>Mon, 22 Oct 2018 07:44:18 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-8/menuju-nol-kg-sampah
SMP SEKOLAH ALAM CIKEAS MENUJU NOL KG SAMPAH
Sekolah Alam Cikeas adalah salah satu sekolah berbudaya lingkungan yang sudah mendapatkan penghargaan Adiwiyata di tingkat Nasional. Predikat tersebut tentunya menjadi sebuah tantangan untuk tetap konsisten menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang ramah terhadap lingkungan.
Perubahan perilaku manusia adalah sebuah tantangan yang tersulit dalam permasalahan lingkungan. Karena pola kebiasaan ramah terhadap lingkungan tidak menjadi sebuah perilaku yang dibudayakan. Masih banyak manusia yang belum peduli dan belum mengetahui nilai (value) dari konsistensi hidup ramah dengan lingkungan.

Integrated Environmental Learning dalam dunia pendidikan dirasakan sangat perlu dikembangkan oleh  seluruh sekolah di Indonesia. Karena perubahan budaya itu bisa terjadi dengan merubah kebiasaan-kebiasaan dan perilaku dari manusianya. Sekolah adalah tempat yang ideal membangun kebiasaan-kebiasaan yang positif. Tentunya di dalam lingkungan sekolah perlu didukung dengan kurikulum yang terintegrasi dan kegiatan belajar mengajar. Akan bermunculan ide-ide, inovasi dan kreatifitas siswa dalam proses belajar yang bersahabat dengan lingkungan. Tentunya valuenya akan dirasakan oleh sekolah tersebut atau dapat dirasakan juga oleh masyarakat secara umum.

Kegiatan belajar yang terintegrasi dengan lingkungan tentunya harus memiliki tolak ukur atau sasaran mutu. Sebagai contoh jika sekolah akan menerapkan program Zero Waste Management tentunya program-program kegiatan yang dikembangkan oleh sekolah harus disusun dengan standar prosedur operational yang baku. Tolak ukur keberhasilannya adalah dengan mendata proses dan progress produksi sampah setiap harinya yang dihasilkan dari setiap ruang kelas atau divisi manajemen masing-masing. Nilai yang ingin dikembangkan tentunya adalah bagaimana kita sebagai manusia dapat mengurangi produksi sampah dan melakukan pengaturan sistem agar di lingkungan sekolah produksi sampah dapat diminimalisasi. Pembiasaan perilaku ini akan memiliki dampak masa depan dengan menghasilkan generasi-generasi yang kritis dan peduli dengan sampah.

Sekolah Alam Cikeas akan berusaha secara konsisten mengembangkan usaha mengurangi produksi sampah di sekolah dengan cara memilah sampah organic dan anorganik. Sampah organik akan didaur secara alami dengan menggunakan media Magot (larva lalat) dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diurai menjadi pupuk organik. Sampah berupa botol plastik akan dikumpulkan di unit Bank Sampah untuk dimanfaatkan oleh unit 3 R untuk keperluan sekolah.

Produksi sampah di Sekolah Alam Cikeas akan ditimbang setiap harinya dan ditargetkan beratnya akan mendekati nol Kilogram. Jenis-jenis sampah yang ditimbang setiap hari adalah jenis sampah residu dan sampah yang tidak bisa dimanfaatkan lagi seperti kertas yang rusak, kotoran debu, plastic berminyak sisa makanan, bekas rautan pinsil, sedotan, dan lidi bekas tusukan makanan. Setiap hari siswa menimbang dan mendata berat sampah yang dihasilkan oleh setiap kelas. Harapannya sampah yang diproduksi hari ini beratnya lebih ringan dari sampah yang dihasilkan kematin dan tentunya beratnya sudah mendekati nol kilogram. Sistem inilah yang akan terus dikembangkan oleh sekolah untuk dapat mengurangi jumlah produksi sampah di lingkungan sekolah.
]]>
<![CDATA[Agribisnis]]>Mon, 22 Oct 2018 07:24:25 GMThttp://sekolahalamcikeas.sch.id/kelas-8/agribisnis
Agribisnis merupakan salah satu kegiatan rutin di SMP Sekolah Alama Cikeas (SAC), siswa SAC bersama dengan fasiltator pergi ke kebun yang letaknya tepat di belakang sekolah setiap seminggu sekali sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan, berikut adalah kegianan kami (kelas 8) saat mengikuti kelas agribisnis.
Minggu pertama, hari senin, jam 2 siang, kami berjalan menuju kebun belakang, berjalan melewati parkiran, kebun setapak, lalu jalan aspal perumahan, sampai bertemu pagar besi yang menuntun kita pada kebun belakang sekolah. Ketika masuk, di sebelah kanan taman itu terdapat berbagai tanaman dari buah-buahan hingga sayur-sayuran, di sebelah kiri ada banyak bedeng-bedeng kosong tempat untuk bercocok tanam, sedangkan saat melihat ke atas, terdapat kawat membentuk atap dengan tanaman rambat.

Kami berbaris, mendengarkan bapak pegawai kebun itu yang sedang menjelaskan apa yang akan kami lakukan kedepannya, setelah beberapa menit, kami di perbolehkan melihat-lihat kebun tersebut, murid-murid berpencar memenuhi seisi kebun, ada yang melihat-lihat tanaman, berlari-larian di dekat bedeng, juga berteduh di bawah tanaman rambat. Pada jam 3, kami diminta kembali ke kelas untuk penutupan kelas dan segera pulang.

Minggu ke 2, kami berjalan ke kebun belakang, minggu ini kami berkegiatan bersama kelas 7  mengikuti jadwal mereka yaitu hari rabu. Di sana, kami di bagi kelompok, lalu masing-masing kelompok diminta memilih bedeng kosong yang tersedia. Setelah itu, kami perkelompok di bagikan 1 jenis bibit, yang harus ditanamkan di bedeng yang telah dipilih. Pertama, tanah disiram, lalu di lubangi dan ditaruh ke dalam lubang, setelah itu lubang ditutup kembali.

Minggu ke 3, sama seperti hari pertama, yaitu di hari senin dan tanpa kelas 7, kami perkelompok kembali diberi bibit yang berbeda untuk di tanam di bedeng yang sebelumnya, bibit kali ini sangatlah kecil, hampir tak bisa terhitung jumlahnya. Setelah itu kami diminta menyiram bedeng kami, agar bibit-bibit yang telah kita tanam mendapat asupan air.

Kegiatan ini sangat menyenangkan bagi kami karena kita bisa langsung merasakan bagaimana serunya menanam berbagai jenis tanaman baik buah-buahan ataupun sayuran. Semoga hasil dari penanaman ini melimpah dan bisa dijual dikegiatan "pasar kemis" nanti, aamiinn.
]]>