Di tengah keterbatasan ruang dan pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, Sekolah Alam Cikeas menghadirkan solusi nyata melalui praktik urban farming sebagai bagian dari pembelajaran sehari-hari. Para siswa dengan antusias merawat tanaman sayur dalam wadah sederhana—botol dan pot daur ulang—yang disusun rapi di area sekolah. Sebuah pemandangan belajar yang hidup, alami, dan penuh makna.
Urban farming di Sekolah Alam Cikeas bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan laboratorium hidup tempat anak-anak belajar langsung dari alam. Mereka mengenal proses pertumbuhan tanaman, memahami kebutuhan air dan nutrisi tanah, serta belajar kesabaran dan tanggung jawab melalui perawatan rutin. Interaksi antara guru dan siswa menunjukkan proses belajar kolaboratif, di mana pengetahuan tidak hanya disampaikan, tetapi dialami bersama.
Melalui praktik ini, siswa juga dikenalkan pada nilai keberlanjutan: memanfaatkan barang bekas, mengelola limbah organik, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan sejak dini. Urban farming menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara sains, karakter, dan kepedulian lingkungan.
Apa yang tumbuh di kebun kecil ini bukan hanya tanaman, tetapi juga kesadaran ekologis, kemandirian, dan cinta terhadap alam. Sekolah Alam Cikeas membuktikan bahwa di ruang terbatas sekalipun, selalu ada tempat untuk menanam harapan dan masa depan yang lebih hijau. 🌱

