Pementasan assembly kali ini mempertunjukkan drama musikal yang diperankan oleh siswa SD kelas 3 Undur-Undur. Melalui kegiatan ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas, yaitu kondisi lingkungan kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Asap pabrik, sampah yang menumpuk, serta simbol CO₂, NO, dan CH4 di langit menunjukkan bahwa aktivitas manusia berperan besar dalam memperburuk keadaan bumi.
Dalam drama ini, para siswa menyampaikan pesan penting dengan cara yang kreatif dan mudah dipahami. Mereka mengajak penonton untuk lebih peduli terhadap lingkungan, dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghabiskan makanan dan menghemat energi. Meskipun terlihat sepele, kedua hal tersebut memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang.
Menghabiskan makanan adalah salah satu bentuk rasa syukur sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Ketika kita membuang makanan, sebenarnya kita juga membuang sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya, seperti air, energi, dan tenaga manusia. Selain itu, sampah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan dapat menghasilkan gas berbahaya seperti metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Oleh karena itu, siswa-siswa dalam drama ini mengajak kita untuk mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya tanpa sisa.
Selain itu, hemat energi juga menjadi fokus utama dalam pertunjukan ini. Penggunaan listrik yang berlebihan, seperti menyalakan lampu atau alat elektronik tanpa kebutuhan, dapat meningkatkan emisi karbon yang memperparah pemanasan global. Dalam drama musikal tersebut, siswa menampilkan tari sederhana seperti mematikan lampu saat siang hari, mencabut charger yang tidak digunakan, atau menggunakan alat elektronik secara bijak. Pesan ini penting untuk ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan baik hingga dewasa.
Melalui pendekatan seni seperti drama musikal, pesan lingkungan menjadi lebih menarik dan mudah diingat. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami makna di balik tindakan mereka. Secara tersirat, penonton pun diajak untuk merenungkan kebiasaan sehari-hari yang mungkin selama ini dianggap biasa, padahal berdampak besar terhadap bumi.

Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus selalu disampaikan secara formal di dalam kelas. Dengan kreativitas, pesan penting dapat dikemas secara menyenangkan dan menyentuh hati. Anak-anak sebagai generasi penerus memiliki peran besar dalam menjaga bumi, dan langkah kecil yang mereka lakukan hari ini dapat membawa perubahan besar di masa depan.
Akhirnya, melalui drama musikal “Bumi Kita Kepanasan”, kita diingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga. Dengan menghabiskan makanan dan menghemat energi, kita telah mengambil langkah sederhana namun berarti untuk melindungi lingkungan. Mari mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, demi masa depan bumi yang lebih baik.

