Ada yang bilang, karakter anak tidak terbentuk di dalam kelas. Terbentuknya di momen-momen yang tidak terduga, saat tas terlalu berat, saat api susah menyala, atau saat teman sekelompok mulai panik dan kamu harus jadi yang paling tenang.




Itulah yang terjadi di Gunung Pancar, 6–7 Mei 2026.
Sebanyak 41 siswa SD 3 Lundura dari kelas Laron dan Undur-undur berangkat pagi-pagi sekali, naik elf, bawa ransel masing-masing. Bukan koper. Bukan tas yang dipakaikan orang tua. Mereka packing sendiri, mereka yang tanggung sendiri. Dan itu sudah jadi pelajaran pertama, sebelum kaki bahkan menginjak tanah Gunung Pancar.
Sampai Lokasi, Langsung Diuji
Begitu tiba di camping ground, tidak ada waktu santai-santai. Tenda harus dibagi, jurnal harus dipegang, dan fun game sudah menunggu. Anak-anak yang biasanya pegang gadget, hari ini pegang trekking pole dan kompas.
Sore harinya, giliran treasure hunt. Berlari, berpikir, bekerja sama. Tidak bisa menang sendiri. Benar-benar tidak bisa.
Lalu sore menjelang malam, datanglah tantangan yang paling dinanti sekaligus paling bikin deg-degan: Master Chef. Mereka memasak nasi goreng. Sendiri. Dengan bahan yang sudah disiapkan, dengan peralatan yang terbatas, dan dengan teman sekelompok yang punya pendapat masing-masing soal berapa banyak kecap yang harus masuk.
Hasilnya? Ada yang gosong sedikit. Ada yang kurang garam. Tapi dimakan bareng di bawah langit malam Gunung Pancar, rasanya tetap enak. Entah karena masakannya, atau karena lapar, atau karena memang ada sesuatu yang berbeda dari makan hasil kerja tangan sendiri.
Malam yang Tidak Dilupakan
Api unggun menyala sekitar pukul setengah delapan malam. Semua duduk melingkar. Tidak ada yang scroll HP, karena memang tidak dibawa. Setiap kelompok tampil, ada yang nyanyi, ada yang bikin sketsa lucu, ada yang sekadar berdiri gugup tapi tetap berani maju.
Di situlah sesuatu yang susah dijelaskan mulai terjadi. Ikatan. Bukan karena dipaksa akrab, tapi karena sudah seharian susah bareng.
Pagi Hari, Kaki Diajak Bicara
Kamis pagi, setelah subuh dan senam, mereka jalan kaki. Sejauh sekitar 3 km, dari Gunung Pancar menuju Curug Leuwi Asih. Medannya tidak main-main, jalur pinus, perkebunan warga, menyusuri sungai kecil. Kaki mulai pegal sekitar kilometer kedua. Tapi tidak ada yang minta berhenti.
Waktu akhirnya sampai di curug dan melihat air terjun itu, ada beberapa anak yang diam sejenak. Mungkin capek. Mungkin kagum. Mungkin keduanya.
Pulang, Tapi Beda
Sore hari mereka kembali ke Sekolah Alam Cikeas. Ransel lebih ringan karena bekal sudah habis. Tapi sesuatu yang lain justru lebih penuh, rasa percaya diri yang tumbuh pelan-pelan, kemampuan bekerja sama yang tidak datang dari teori, dan satu pengalaman nyata yang tidak akan bisa diajarkan dari balik meja kelas.
Bersama menjadi hebat. Bukan slogan. Mereka sudah membuktikannya sendiri, dua hari di Gunung Pancar.

