Skip to content
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Profil Sekolah
    • Nilai Inti
    • Tim
    • Fasilitas
  • Kurikulum
    • PG TK
    • SD
    • SMP
    • SMA
    • Program Unggulan
  • Berita
    • Info Terkini
    • Promo
    • Unduh Buku
    • Lingkungan
    • Prestasi
  • Hubungi SAC
    • Cabang SAC
Admissions
  • Blog

    Enam Hari ke Ujung Jawa: Ketika Anak SD Ini Pulang Bawa Hal yang Lebih dari Sekadar Oleh-oleh

    Doni Ari Bharata

    ,

    May 22, 2026

    .

    Kelas 5, Lingkungan, Umum
    Enam Hari ke Ujung Jawa: Ketika Anak SD Ini Pulang Bawa Hal yang Lebih dari Sekadar Oleh-oleh

    Senin pagi, jam setengah tujuh. Anak-anak SD 5 TOPING Sekolah Alam Cikeas berkumpul di lapangan dengan ransel carrier yang hampir sebesar badan mereka. Semua dikemas sendiri. Semua ditanggung sendiri.

    Tujuan? Ujung Jawa. Banyuwangi.

    Enam hari. Kereta malam. Sabana, laut, desa adat, dan kawah berapi. Bukan study tour biasa. Ini serius.

    Di Atas Kereta Blambangan Ekspres

    Perjalanan dimulai dari Stasiun Senen. Kereta berangkat siang, tiba dini hari. Sepanjang perjalanan, tidak ada gadget, aturan ini memang disepakati dari awal. Jadi yang ada cuma ngobrol, lihat pemandangan yang berganti dari kota ke sawah ke hutan, dan belajar menghitung kecepatan kereta dari jendela.

    Matematika. Tapi tidak ada yang sadar sedang belajar.

    Savana Baluran: Afrika-nya Jawa

    Pagi hari kedua, mereka tiba di Baluran. Tempat yang sering disebut “Little Africa van Java”, dan begitu masuk, kamu langsung paham kenapa.

    Hamparan savana luas. Banteng Jawa berkeliaran. Merak hijau sesekali lewat. Anak-anak yang biasanya scroll Instagram, tiba-tiba diam memandang. Tidak ada filter yang bisa menandingi ini.

    Di sini mereka belajar sesuatu yang tidak ada di buku: bahwa alam yang terjaga itu indahnya beda. Dan menjaganya bukan tugas siapa-siapa, tapi tugas semua orang, termasuk mereka.

    Bangsring: Bukan Sekadar Snorkeling

    Hari ketiga, giliran laut. Di Bangsring Underwater, mereka tidak cuma nyebur dan foto-foto. Ada misi yang lebih nyata: menanam terumbu karang. Dan dari rumah apung di tengah laut, mereka menyaksikan penangkaran ikan hiu dari jarak yang sangat dekat.

    Serius, hiu. Beneran.

    Momen itu mungkin yang paling bikin melongo. Tapi di balik keseruan itu, ada kesadaran yang pelan-pelan tumbuh, bahwa ekosistem laut ini rapuh, dan masyarakat Bangsring sudah bertahun-tahun berjuang menjaganya. Anak-anak jadi bagian kecil dari perjuangan itu hari ini.

    Desa Kemiren: Belajar dari Suku Osing

    Hari keempat, mereka pindah ke Desa Kemiren, desa adat yang masih kuat menjaga tradisi Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Live-in di rumah warga, makan bareng keluarga setempat, dan sore harinya duduk belajar membatik.

    Bukan nonton orang membatik. Mereka yang pegang cantingnya sendiri.

    Motif batik khas Osing itu ternyata tidak mudah. Tangan gemetar, malam tetes sembarangan, hasilnya jauh dari sempurna. Tapi dari proses itulah muncul rasa hormat, pada pengrajin yang puluhan tahun mengerjakannya setiap hari.

    Kawah Ijen: Tengah Malam, Kaki Mendaki

    Hari kelima jadi puncaknya, secara harfiah.

    Tengah malam, jam satu, mereka bangun dan mulai mendaki Kawah Ijen. Gelap. Dingin. Napas mulai berat sekitar setengah jalan. Tapi tidak ada yang minta berhenti.

    Mereka tiba di puncak saat fajar mulai menyingsing. Di bawah, danau kawah berwarna biru kehijauan. Di kejauhan, langit mulai jingga. Dan tanpa ada yang minta, banyak anak yang diam, hanya berdiri memandang.

    Subuh mereka laksanakan di atas kawah. Momen yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

    Pulang, Tapi Sudah Beda

    Sabtu pagi, kereta membawa mereka kembali ke Jakarta. Ransel sama beratnya. Tapi sesuatu di dalam diri sudah berubah.

    Mereka sudah tidur jauh dari rumah, makan di dapur orang asing, mendaki gunung tengah malam, dan merawat ekosistem laut yang bukan milik mereka, tapi tetap mereka jaga.

    Itulah life skill yang sesungguhnya. Tidak bisa diajarkan di dalam kelas. Hanya bisa dirasakan langsung, dengan kaki yang capek dan hati yang penuh.

    Post Views: 13

Search

ARSIP

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • May 2024
  • September 2023
  • July 2023
  • May 2023
  • April 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • November 2022
  • October 2022
  • August 2022
  • March 2022
  • November 2019
  • September 2018
  • August 2018
  • July 2018
  • January 2018
  • January 2016

KATEGORI

  • Day Care
  • General
  • Internasional
  • Lingkungan
  • PG-TK
    • Playgroup
    • TK A
    • TK-B
  • Prestasi
  • SD
    • Kelas 1
    • Kelas 2
    • Kelas 3
    • Kelas 4
    • Kelas 5
    • Kelas 6
  • SMA
    • Kelas 10
    • Kelas 11
    • Kelas 12
  • SMP
    • Kelas 7
    • Kelas 8
    • Kelas 9
  • Umum
  • Uncategorized

Bergabung Bersama Kami

1754 Alumni
528 Siswa
96 Guru/Karyawan
29 Kelas
Rasio Guru:Murid 1:8

Temukan pendekatan pendidikan alam yang holistik untuk anak Anda.

Daftar Sekarang
Cek Info Biaya

Sekolah Alam adalah sekolah formal dengan konsep pendidikan berbasis akhlak dan alam yang membentuk siswa agar berkarakter mulia, cerdas, berjiwa pemimpin dan mampu menunjukkan aksi nyata pada lingkungan dan negara sebagai tanda rasa cinta terhadap tanah airnya.

Perumahan Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Cikeas, Bogor.

+6281 1111 9924

admin@sekolahalamcikeas.sch.id

Main Menu

  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Profil Sekolah
    • Nilai Inti
    • Tim
    • Fasilitas
  • Kurikulum
    • PG TK
    • SD
    • SMP
    • SMA
    • Program Unggulan
  • Berita
    • Info Terkini
    • Promo
    • Unduh Buku
    • Lingkungan
    • Prestasi
  • Hubungi SAC
    • Cabang SAC
  • Admission

Link Lainnya

  • Term & Conditions
  • Privacy Policy

Follow Us

insta
yt
fb
in
tw

Copyright © 2025 Sekolah Alam Cikeas.

Admin Sekolah Alam Cikeas di sini!