



Senin pagi, jam setengah tujuh. Anak-anak SD 5 TOPING Sekolah Alam Cikeas berkumpul di lapangan dengan ransel carrier yang hampir sebesar badan mereka. Semua dikemas sendiri. Semua ditanggung sendiri.
Tujuan? Ujung Jawa. Banyuwangi.
Enam hari. Kereta malam. Sabana, laut, desa adat, dan kawah berapi. Bukan study tour biasa. Ini serius.
Di Atas Kereta Blambangan Ekspres
Perjalanan dimulai dari Stasiun Senen. Kereta berangkat siang, tiba dini hari. Sepanjang perjalanan, tidak ada gadget, aturan ini memang disepakati dari awal. Jadi yang ada cuma ngobrol, lihat pemandangan yang berganti dari kota ke sawah ke hutan, dan belajar menghitung kecepatan kereta dari jendela.
Matematika. Tapi tidak ada yang sadar sedang belajar.
Savana Baluran: Afrika-nya Jawa
Pagi hari kedua, mereka tiba di Baluran. Tempat yang sering disebut “Little Africa van Java”, dan begitu masuk, kamu langsung paham kenapa.
Hamparan savana luas. Banteng Jawa berkeliaran. Merak hijau sesekali lewat. Anak-anak yang biasanya scroll Instagram, tiba-tiba diam memandang. Tidak ada filter yang bisa menandingi ini.
Di sini mereka belajar sesuatu yang tidak ada di buku: bahwa alam yang terjaga itu indahnya beda. Dan menjaganya bukan tugas siapa-siapa, tapi tugas semua orang, termasuk mereka.
Bangsring: Bukan Sekadar Snorkeling
Hari ketiga, giliran laut. Di Bangsring Underwater, mereka tidak cuma nyebur dan foto-foto. Ada misi yang lebih nyata: menanam terumbu karang. Dan dari rumah apung di tengah laut, mereka menyaksikan penangkaran ikan hiu dari jarak yang sangat dekat.
Serius, hiu. Beneran.
Momen itu mungkin yang paling bikin melongo. Tapi di balik keseruan itu, ada kesadaran yang pelan-pelan tumbuh, bahwa ekosistem laut ini rapuh, dan masyarakat Bangsring sudah bertahun-tahun berjuang menjaganya. Anak-anak jadi bagian kecil dari perjuangan itu hari ini.
Desa Kemiren: Belajar dari Suku Osing
Hari keempat, mereka pindah ke Desa Kemiren, desa adat yang masih kuat menjaga tradisi Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Live-in di rumah warga, makan bareng keluarga setempat, dan sore harinya duduk belajar membatik.
Bukan nonton orang membatik. Mereka yang pegang cantingnya sendiri.
Motif batik khas Osing itu ternyata tidak mudah. Tangan gemetar, malam tetes sembarangan, hasilnya jauh dari sempurna. Tapi dari proses itulah muncul rasa hormat, pada pengrajin yang puluhan tahun mengerjakannya setiap hari.
Kawah Ijen: Tengah Malam, Kaki Mendaki
Hari kelima jadi puncaknya, secara harfiah.
Tengah malam, jam satu, mereka bangun dan mulai mendaki Kawah Ijen. Gelap. Dingin. Napas mulai berat sekitar setengah jalan. Tapi tidak ada yang minta berhenti.
Mereka tiba di puncak saat fajar mulai menyingsing. Di bawah, danau kawah berwarna biru kehijauan. Di kejauhan, langit mulai jingga. Dan tanpa ada yang minta, banyak anak yang diam, hanya berdiri memandang.
Subuh mereka laksanakan di atas kawah. Momen yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Pulang, Tapi Sudah Beda
Sabtu pagi, kereta membawa mereka kembali ke Jakarta. Ransel sama beratnya. Tapi sesuatu di dalam diri sudah berubah.
Mereka sudah tidur jauh dari rumah, makan di dapur orang asing, mendaki gunung tengah malam, dan merawat ekosistem laut yang bukan milik mereka, tapi tetap mereka jaga.
Itulah life skill yang sesungguhnya. Tidak bisa diajarkan di dalam kelas. Hanya bisa dirasakan langsung, dengan kaki yang capek dan hati yang penuh.

