Menyaksikan Qurban di Hari Ketiga yang Paling Tenang





Ada sesuatu yang berbeda saat saya tiba di Sekolah Alam Cikeas pada hari ketiga Idul Adha 2026. Hari terakhir. Tidak terlalu ramai. Tidak penuh hiruk-pikuk seperti hari pertama. Tetapi justru di situlah suasananya terasa lebih dalam.
Udara pagi masih dingin. Rumput basah oleh embun. Anak-anak berlarian kecil menuju tempat hewan ditambatkan. Dari kejauhan terdengar takbir pelan. Bukan keras. Bukan megah. Hanya cukup untuk membuat suasana terasa hangat.
Di lapangan sekolah yang dikelilingi pepohonan, proses qurban dimulai. Tahun ini, dua ekor sapi dan sepuluh ekor domba dikurbankan. Saya berdiri di bawah pohon, memperhatikan orang-orang bekerja bersama tanpa banyak bicara. Ada yang memotong daging. Ada yang menimbang. Ada yang membungkus dengan cepat sambil bercanda kecil.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada kesan terburu-buru.
Semua terasa seperti sebuah tradisi yang sudah hidup lama di tempat itu.
Yang paling saya ingat justru bukan proses penyembelihannya. Tetapi wajah-wajah orang di sana. Anak-anak yang belajar membantu sejak pagi. Para guru yang ikut memotong dan mengangkat kantong daging. Orang tua yang datang untuk memotong qurbannya. Bahkan aroma asap dari dapur sederhana di sudut sekolah terasa seperti bagian dari cerita.
Seekor domba sempat mengembik keras sebelum akhirnya tenang. Seorang anak kecil yang berdiri di dekat saya menggenggam tangan ayahnya lebih erat. Lalu ayahnya berbisik pelan, “Qurban itu belajar ikhlas.”
Kalimat sederhana.
Tetapi entah kenapa, saya terus mengingatnya sampai perjalanan pulang.
Belajar Makna Idul Adha dari Alam dan Kebersamaan
Banyak tempat melaksanakan qurban. Tetapi di Sekolah Alam Cikeas, saya melihat sesuatu yang lebih dari sekadar ritual tahunan. Ada rasa kebersamaan yang nyata. Anak-anak tidak hanya menonton. Mereka belajar. Tentang berbagi. Tentang kepedulian. Tentang menghormati kehidupan.
Langit mulai mendung ketika pembagian terakhir selesai. Beberapa orang duduk di tikar bambu sambil minum es teh. Tidak ada acara besar. Tidak ada panggung.
Hanya manusia-manusia yang merasa cukup karena bisa berbagi.
Dan mungkin, itu memang inti dari Idul Adha yang sebenarnya.

